Harga Cabai Rawit hingga Daging Ayam Turun, Inflasi RI April 2026 Terkendali

Berita80 Dilihat

Jakarta, 4 Mei — Laju inflasi pada April 2026 masih terjaga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,13 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik tipis dari 110,95 pada Maret menjadi 111,09 di April. Sementara itu, inflasi sejak awal tahun mencapai 1,06 persen (YoY).

Penyumbang utama kenaikan harga pada April datang dari sektor transportasi. Kelompok ini mencatat inflasi 0,99 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi total, yakni 0,12 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor dominan.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen,” jelas Ateng di Jakarta, Senin (4/5).

Selain transportasi, beberapa bahan pangan juga ikut menyumbang inflasi, seperti minyak goreng, tomat, serta beras dan nasi dengan lauk.

Meski begitu, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi 0,20 persen. Penurunan harga ini memberi kontribusi menahan inflasi secara keseluruhan.

Ateng menyebut beberapa komoditas yang berperan sebagai penahan inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, dan telur ayam ras. Beberapa harga komoditas tersebut tercatat mengalami penurunan.

“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” ungkapnya.

Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat sebesar 0,23 persen. Kenaikan ini dipicu oleh harga sejumlah barang seperti minyak goreng, makanan siap saji, hingga barang elektronik seperti ponsel dan laptop.

Sementara itu, harga yang diatur pemerintah juga mengalami kenaikan 0,69 persen, terutama karena penyesuaian tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, dan rokok.

Di sisi lain, komponen harga bergejolak justru mengalami deflasi cukup dalam, yakni 0,88 persen. Penurunan harga pada komoditas pangan seperti daging ayam, cabai, dan telur menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi bulan ini.

Secara wilayah, mayoritas daerah mengalami kenaikan harga. Sebanyak 30 provinsi mencatat inflasi, sementara 8 provinsi mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 2,00 persen, sedangkan deflasi terdalam tercatat di Maluku sebesar 0,17 persen.

Dengan kondisi ini, inflasi April 2026 dinilai masih dalam batas aman, ditopang oleh turunnya harga sejumlah bahan pangan yang mampu menahan tekanan dari kenaikan biaya transportasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *